poeticonnie:

image

  1. The moment you realize that the person you cared for has nothing intellectually or spiritually to offer you, but a headache.
  2. The moment you realize God had greater plans for you that don’t involve crying at night or sad Pinterest quotes.
  3. The moment you stop comparing yourself to others…
kak, aku tau kakak di tumblr sejak galau lalu bertemu dengan tuan 'K' sekarang galau lagi.. menyesal ga sudah menaruh hati kepada tuan 'K' ?
Anonymous

jagungrebus:

TIDAK SAMA SEKALI. :)

Dia orang baik, seringkali berbuat salah memang. Tingkahnya menyebalkan, kadang2 mengajak orang lain berbuat dosa. Suka marah-marah, kadang sengaja membuat saya menangis dan sakit hati. Tidak pernah mengakui bahwa dia cemburu, belagu dan hobi banget dikejar-kejar cewek (kadang merasa dikejar padahal mah nggak). Hahaha ini cowok gak ada bagus-bagusnya memang. *tuuuh kan sy jadi kangen. :(

Tapi dari dia, saya belajar untuk rendah hati dan menilai orang lain lebih mulia dari diri sendiri. Saya belajar banyak dari dia. Mungkin dia sendiri tidak sadar, bahwa saya dipaksa kuat olehnya, secara fisik dan jiwa. Dia salut pada ketabahan saya, tapi dia tidak tahu bahwa saya salut padanya karena bisa membuat saya setabah dan sesabar itu. Dia sendiri tidak sadar, bahwa dia satu-satunya orang yang bisa mengalahkan dominansi saya tanpa paksaan.

Bagaimanapun, dia pernah menjadi salah satu bagian terpenting dari diri saya, sebenarnya hingga sekarang. Hanya, mungkin sekarang dalam kondisi yang berbeda. Sesungguhnya, mungkin seperti sekarang lebih baik.

Yang saya lihat sekarang, dia mulai berubah, semoga kearah lebih baik. Banyak kejadian buruk menimpanya akhir-akhir ini, termasuk keputusan saya untuk berpisah dengannya. Saya tahu itu akan menambah masalahnya, tapi kadang kita harus menyiksa seseorang supaya orang itu tahu bahwa ‘zona aman’ nya, dalam hal ini komitmennya dengan saya, bukanlah permainan yang bisa dia tarik ulur sesuka hati. Bukan juga rumah singgah yang dia diami hanya ketika dia butuh dan tidak mendapatkan apa yang dia inginkan di perjalanan. Dia harus memilih, menekan egoisnya sebagai laki-laki atau kehilangan saya selamanya. Jika dia memenangkan egoisnya, dia tidak hanya akan kehilangan saya, tapi juga perempuan-perempuan selanjutnya. 

Dengannya tanpa sadar saya belajar untuk mencintai tidak dengan cara yang egois dan obsesif. Yaitu, dengan atau tanpa saya, dia harus baik-baik saja.

Dia bersalah pada saya, tapi saya juga pernah sangat bersalah padanya dan dengan sangat bijak dia memaafkan. Karena saya tidak sebijak dia, saya belum bisa memaafkan meski dia minta maaf berkali-kali.

Dia tidak pernah mengatakan hal-hal manis, tapi dari tindakannya saya tahu dia sudah sangat berjuang untuk kami berdua, bahkan mungkin hingga detik ini. 

Saya sedang ‘melihat’ tuhan tersenyum, semoga padanya juga. Semoga setelah ini dia menjadi orang yang lebih baik, dan semoga kehidupannya segera membaik. Begitu juga dengan saya.

Kita tidak perlu menyesali kejatuhan hati kita pada seseorang. Karena dengan itu kita bisa belajar tentang kehidupan dan rasa, bahkan tentang diri kita sendiri. Jika kamu mencintai orang yang salah, mungkin memang seharusnya seperti itu, supaya kita tahu bagaimana mencintai orang yang benar dengan cara yang benar.

Yah, mungkin tuhan tidak suka dengan cara kami jatuh cinta.

Tapi, saya tidak menyesal. Sedikitpun saya tidak menyesal pernah menaruh hati saya padanya. Saya berterima kasih pada tuhan karena memberi kesempatan untuk itu. Setelah ini, saya harap betul-betul hanya pada suami saja, saya menitipkan hati. :)

regards,

-dini-

nengsifat:

image

‪#‎B‬: telur puyuh, minuman bersoda, jagung, roti gandum, tomat, kacang tanah, belimbing, daging, lobster Makanan yang harus dikonsumsi B: susu, bubur, keju, sayur brokoli, kembang kol, wortel, teh hijau, daging, ikan dari laut

GolDar #B ketika bertemu dengan orang yang ia sukai, tanpa…

"I’ve been looking out of a window for eighteen years, dreaming about what I might feel like when those lights rise in the sky. What if it’s not everything I dreamed it would be?"

Tanpa sadar, mencintaimu tak hanya menghadiahkan air mata.
Ketika memeluk lutut, diam-diam aku menghadirkan do’a.

(via andhikahadipratama)

Tanpa sengaja, mencintaimu ternyata menjadikanku kuat. Ketika aku terjatuh karena merindu diam-diam, aku bisa bangkit dengan cepat.

(via melisalalala)

Tanpa dikira, mencintaimu membuatku berani mengabaikan pilu, dan terus mencari cara agar kau tetap tersenyum padaku.

(via andhikahadipratama)

Tanpa dipikir, mencintaimu membuatku gila. Berkali-kali berhadapan dengan abai, masih saja rasanya kau indah tanpa cela.

(via melisalalala)

Tanpa salam, cintamu hadir diam-diam, memeluk tubuhku erat memberi hangat ketika aku merebah di atas tilam.

(via andhikahadipratama)

Tanpa peringatan, segala indah bayangmu bertamu memenuhi mimpi. Tak ingin pagi cepat datang, aku hilang, aku terbuai.

(via melisalalala)

Yang menyianyiakanmu saat ini, pasti akan menyesal dikemudian hari, asalkan kamu memutuskan untuk berbahagia nantinya. Dan bahagia itu sederhana, bersyukur atas semua pemberian-NYA. Satu kalimah ALHAMDULILAH akan membuat ALLAH memberi yang lebih karena kita telah memutuskan untuk bersyukur.
Fauzan Arif (via fauzan-arif)

onlinecounsellingcollege:

1. Is this a person who always puts you down? A friend is someone who accepts you as you are – and allows you to be different, and to think for yourself, and to make your own decisions – without an explanation. However, if a person is demeaning or always puts you down, criticises your opinions, or…

Sometimes in life, you fall down holes you can’t climb out of by yourself. That’s what friends and family are for—to help. They can’t help, however, unless you let them know you’re down there.
Meg Cabot (via onlinecounsellingcollege)
academicus:

Selama sepuluh tahun, beliau telah banyak mengubah Indonesia.
Menyimak Pidato Kenegaraannya di DPR yang terakhir seperti melihatnya melambaikan tangan, mengucapkan salam perpisahan. Mengingatkan tentang perjalanan panjang bangsa kita. Bahwa kita sebagai bangsa telah jauh berjalan bersama, bergandengan tangan, berjuang menjadi bangsa yang lebih sejahtera.

"Dari bangsa yang sewaktu merdeka sebagian besar penduduknya buta huruf, rakyat Indonesia kini mempunyai sistem pendidikan yang kuat dan luas, yang mencakup lebih dari 200 ribu sekolah, 3 juta guru, dan 50 juta siswa.
Dari bangsa yang tadinya terbelakang di Asia, Indonesia telah naik menjadi middle-income country, menempati posisi ekonomi ke-16 terbesar di dunia, dan bahkan menurut Bank Dunia telah masuk dalam 10 besar ekonomi dunia jika dihitung dari Purchasing Power Parity.
Dari bangsa yang seluruh penduduknya miskin di tahun 1945, Indonesia di abad ke-21 mempunyai kelas menengah terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu negara dengan pertumbuhan kelas menengah tercepat di Asia
Dari bangsa yang jatuh bangun diterpa badai politik dan ekonomi, kita telah berhasil mengonsolidasikan diri menjadi demokrasi ke-3 terbesar di dunia”

Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa semua stabilitas dan perkembangan ekonomi negara kita adalah “kejadian alami”, yang terjadi karena hasil jerih payah rakyat sendiri.
“Ya itu kan memang karena Indonesia lagi punya bonus demografi”
“Ini memang karena kelas ekonomi menengah kita sedang kuat”
“Ini karena rakyat memperjuangkan perubahannya sendiri, bukan karena pemerintahan SBY”
Buat saya, pendapat seperti ini adalah pendapat pecundang. Mereka terlalu sombong untuk membuka mata dan menerima fakta, bahwa kita bisa mendapatkan semuanya karena kita berjalan bersama, dan kita berjalan di bawah pemerintahan SBY.
Tidak adil jika kita menyalahkan SBY atas semua kegagalan pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu, tetapi tidak memberikan apresiasi sama sekali ketika di bawah kabinet yang sama, terdapat begitu banyak prestasi.
Dan sungguh tidak adil jika kita membandingkan Indonesia dengan Amerika, Eropa, Korea, atau negara lainnya. Indonesia terlalu luas, terlalu besar, dan terlalu beragam untuk disamakan dengan negara manapun di dunia. Menjadi pemimpin sebuah negara dengan ribuan pulau, ribuan suku, ribuan bahasa, dan milyaran pemikiran yang tersebar dalam jutaan kepala adalah sebuah beban yang teramat besar, terlalu besar.

"Menjadi Presiden dalam lanskap politik dimana semua pemimpin mempunyai mandat sendiri, dalam demokrasi 240 juta, adalah suatu proses belajar yang tidak akan pernah ada habisnya"

Dan dia tetap memilih berani berdiri di sana, atas memimpin kita bertumbuh bersama.

"Setelah hampir 7 dekade merdeka, Indonesia di abad ke-21 terus tumbuh menjadi bangsa yang semakin bersatu, semakin damai, semakin makmur, dan semakin demokratis"

Saya mungkin bukan ahli politik, saya bisa jadi tidak mengerti sosial-ekonomi, dan saya barangkali tidak tahu banyak soal tata negara.
Tapi saya tahu pasti menjadi presiden bukanlah perkara mudah.
Saya sadar betul memimpin Indonesia bukan pekerjaan sederhana.
Saya semakin memahami bahwa presiden tak sepantasnya dengan mudah dicaci-maki, dibilang lamban, dicap tolol, diteriaki boneka asing, dan dijadikan lelucon.
Jika memang ia mengkhianati kita sebagai bangsa, saya tidak pasti tahu akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Jika memang SBY menjual negara kepada asing atas niatan berkhianat, saya pun tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Yang tahu pasti akan semua pengkhianatan itu, hanya dia dan Tuhan.
Tapi saya tahu pasti Pak SBY kurang tidur karena memikirkan Indonesia. Terlihat jelas lelah dan semua beban itu di kantung matanya.
Saya percaya Pak SBY mengusahakan perdamaian di negeri ini dengan seksama, agar bangsa kita yang begitu beragam agamanya, begitu berwarna keyakinannya, tidak saling mengadu dan tetap bisa bersatu.

"Dalam sepuluh tahun terakhir, saya telah mencoba mendedikasikan seluruh jiwa dan raga untuk Indonesia. Terlepas dari berbagai cobaan, krisis dan tantangan yang saya alami, tidak pernah ada satu menit pun saya merasa pesimis terhadap masa depan Indonesia. Dan tidak pernah satu menit pun saya merasa tergoda untuk melanggar sumpah jabatan dan amanah rakyat saya sebagai Presiden"

Dan dengan semua perjalanan panjang itu, Pak SBY dengan rendah hati meminta maaf secara terbuka.

"Merupakan kehormatan besar bagi saya menjadi Presiden Republik Indonesia. Saya adalah anak orang biasa, dan anak biasa dari Pacitan, yang kemudian menjadi tentara, menteri, dan kemudian dipilih sejarah untuk memimpin bangsa Indonesia. 
Tentunya dalam sepuluh tahun, saya banyak membuat kesalahan dan kekhilafan dalam melaksanakan tugas. Dari lubuk hati yang terdalam, saya meminta maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan. Meskipun saya ingin selalu berbuat yang terbaik, tetaplah saya manusia biasa”

Memikirkan ini semua, saya jadi membayangkan suatu saat nanti ketika saya punya kesempatan bertemu dengan beliau, apa yang akan saya katakan.
Saya teringat berapa banyak saya ikut mencaci beliau dan menjadikannya bahan lelucon, dan betapa sedikitnya saya mengapresiasi dan berusaha benar-benar memahami beban beratnya sebagai pemimpin bangsa Indonesia.
 
Saya mungkin tidak akan berbicara banyak.
Saya akan menjabat tangannya erat, menatap matanya lekat, dan memeluknya dengan hangat.
Saya hanya ingin meminta maaf dan berterima kasih.

academicus:

Selama sepuluh tahun, beliau telah banyak mengubah Indonesia.

Menyimak Pidato Kenegaraannya di DPR yang terakhir seperti melihatnya melambaikan tangan, mengucapkan salam perpisahan. Mengingatkan tentang perjalanan panjang bangsa kita. Bahwa kita sebagai bangsa telah jauh berjalan bersama, bergandengan tangan, berjuang menjadi bangsa yang lebih sejahtera.

"Dari bangsa yang sewaktu merdeka sebagian besar penduduknya buta huruf, rakyat Indonesia kini mempunyai sistem pendidikan yang kuat dan luas, yang mencakup lebih dari 200 ribu sekolah, 3 juta guru, dan 50 juta siswa.

Dari bangsa yang tadinya terbelakang di Asia, Indonesia telah naik menjadi middle-income country, menempati posisi ekonomi ke-16 terbesar di dunia, dan bahkan menurut Bank Dunia telah masuk dalam 10 besar ekonomi dunia jika dihitung dari Purchasing Power Parity.

Dari bangsa yang seluruh penduduknya miskin di tahun 1945, Indonesia di abad ke-21 mempunyai kelas menengah terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu negara dengan pertumbuhan kelas menengah tercepat di Asia

Dari bangsa yang jatuh bangun diterpa badai politik dan ekonomi, kita telah berhasil mengonsolidasikan diri menjadi demokrasi ke-3 terbesar di dunia”

Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa semua stabilitas dan perkembangan ekonomi negara kita adalah “kejadian alami”, yang terjadi karena hasil jerih payah rakyat sendiri.

“Ya itu kan memang karena Indonesia lagi punya bonus demografi

“Ini memang karena kelas ekonomi menengah kita sedang kuat”

“Ini karena rakyat memperjuangkan perubahannya sendiri, bukan karena pemerintahan SBY”

Buat saya, pendapat seperti ini adalah pendapat pecundang. Mereka terlalu sombong untuk membuka mata dan menerima fakta, bahwa kita bisa mendapatkan semuanya karena kita berjalan bersama, dan kita berjalan di bawah pemerintahan SBY.

Tidak adil jika kita menyalahkan SBY atas semua kegagalan pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu, tetapi tidak memberikan apresiasi sama sekali ketika di bawah kabinet yang sama, terdapat begitu banyak prestasi.

Dan sungguh tidak adil jika kita membandingkan Indonesia dengan Amerika, Eropa, Korea, atau negara lainnya. Indonesia terlalu luas, terlalu besar, dan terlalu beragam untuk disamakan dengan negara manapun di dunia. Menjadi pemimpin sebuah negara dengan ribuan pulau, ribuan suku, ribuan bahasa, dan milyaran pemikiran yang tersebar dalam jutaan kepala adalah sebuah beban yang teramat besar, terlalu besar.

"Menjadi Presiden dalam lanskap politik dimana semua pemimpin mempunyai mandat sendiri, dalam demokrasi 240 juta, adalah suatu proses belajar yang tidak akan pernah ada habisnya"

Dan dia tetap memilih berani berdiri di sana, atas memimpin kita bertumbuh bersama.

"Setelah hampir 7 dekade merdeka, Indonesia di abad ke-21 terus tumbuh menjadi bangsa yang semakin bersatu, semakin damai, semakin makmur, dan semakin demokratis"

Saya mungkin bukan ahli politik, saya bisa jadi tidak mengerti sosial-ekonomi, dan saya barangkali tidak tahu banyak soal tata negara.

Tapi saya tahu pasti menjadi presiden bukanlah perkara mudah.

Saya sadar betul memimpin Indonesia bukan pekerjaan sederhana.

Saya semakin memahami bahwa presiden tak sepantasnya dengan mudah dicaci-maki, dibilang lamban, dicap tolol, diteriaki boneka asing, dan dijadikan lelucon.

Jika memang ia mengkhianati kita sebagai bangsa, saya tidak pasti tahu akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Jika memang SBY menjual negara kepada asing atas niatan berkhianat, saya pun tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Yang tahu pasti akan semua pengkhianatan itu, hanya dia dan Tuhan.

Tapi saya tahu pasti Pak SBY kurang tidur karena memikirkan Indonesia. Terlihat jelas lelah dan semua beban itu di kantung matanya.

Saya percaya Pak SBY mengusahakan perdamaian di negeri ini dengan seksama, agar bangsa kita yang begitu beragam agamanya, begitu berwarna keyakinannya, tidak saling mengadu dan tetap bisa bersatu.

"Dalam sepuluh tahun terakhir, saya telah mencoba mendedikasikan seluruh jiwa dan raga untuk Indonesia. Terlepas dari berbagai cobaan, krisis dan tantangan yang saya alami, tidak pernah ada satu menit pun saya merasa pesimis terhadap masa depan Indonesia. Dan tidak pernah satu menit pun saya merasa tergoda untuk melanggar sumpah jabatan dan amanah rakyat saya sebagai Presiden"

Dan dengan semua perjalanan panjang itu, Pak SBY dengan rendah hati meminta maaf secara terbuka.

"Merupakan kehormatan besar bagi saya menjadi Presiden Republik Indonesia. Saya adalah anak orang biasa, dan anak biasa dari Pacitan, yang kemudian menjadi tentara, menteri, dan kemudian dipilih sejarah untuk memimpin bangsa Indonesia.

Tentunya dalam sepuluh tahun, saya banyak membuat kesalahan dan kekhilafan dalam melaksanakan tugas. Dari lubuk hati yang terdalam, saya meminta maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan. Meskipun saya ingin selalu berbuat yang terbaik, tetaplah saya manusia biasa”

Memikirkan ini semua, saya jadi membayangkan suatu saat nanti ketika saya punya kesempatan bertemu dengan beliau, apa yang akan saya katakan.

Saya teringat berapa banyak saya ikut mencaci beliau dan menjadikannya bahan lelucon, dan betapa sedikitnya saya mengapresiasi dan berusaha benar-benar memahami beban beratnya sebagai pemimpin bangsa Indonesia.

 

Saya mungkin tidak akan berbicara banyak.

Saya akan menjabat tangannya erat, menatap matanya lekat, dan memeluknya dengan hangat.

Saya hanya ingin meminta maaf dan berterima kasih.

princessblogonoke:

Anxiety & Helping Someone Cope. 
I didn’t want to make it overwhelming or too long remember, so I kept it to the main points that benefit me greatly when I’m experiencing an attack.
40 million of Americans alone suffer with anxiety; it’s a horrid feeling when you know someone just wants to help you but you cannot even construct a simple sentence at the time, so please share this in hope that it benefits even just 1 person. Muchos love.